Kebutuhan Emosi Orang Tua

LoadSaat berinteraksi dengan orang tua, saya bertemu berbagai macam kisah hubungan antara anak dengan orang tua. Berbagai macam hal yang terjadi pada anak, terkadang membuat orang tua merasa lelah saat menjalankan perannya. Orang tua merupakan seorang manusia yang memiliki kebutuhan emosional. Namun, pada perjalanannya terkadang sebagai orang tua “tidak merasakan” atau “kurang memperhatikan” kelelahan secara emosi menjalankan perannya sebagai orang tua sehingga tanpa disadari perilaku atau ucapan orang tua kurang mengenakkan kepada anak. Kurang lebih menjadikan anak sebagai “pelampiasan” rasa kesalnya.

Terdapat beberapa kebutuhan emosi sebagai orang tua, yakni perasaan diterima, dikagumi, dihargai, diterima/disetujui, dianggap sebagai orang tua yang kompeten atau orang tua yang sanggup menjalankan tugas-tugasnya sebagai orang tua, didengar, disukai, dianggap sebagai seseorang yang penting, dicintai, didukung, dimengerti, dan dipercaya (Hein, 1996). Hal yang perlu diketahui oleh orang tua adalah kejadian anak yang “menggores” kebutuhan emosi sebagai orang tua, misalnya, saat anak memutuskan untuk tidak jadi menikah, orang tua merasa perilaku anak telah mempermalukan keluarga. Orang tua sebaiknya melihat lebih lanjut, apakah perilaku anak yang tidak jadi menikah membuat mereka merasa kesal karena impian bisa menikahkan anak tidak terwujud atau dikarenakan hal lain.

Hal yang perlu diperhatikan saat hubungan antara orang tua dengan anak tidak stabil, orang tua dan anak dapat mengambil “jarak” sejenak untuk menenangkan hati dan pikiran. Kemudian kedua belah pihak dapat memulai melakukan dialog bersama. Orang tua dapat berusaha menciptakan situasi yang nyaman dan aman bagi anak, terutama saat anak mencoba untuk berterus terang dengan kesulitan yang ia alami.

Hein (1996) menawarkan beberapa cara berkomunikasi kepada anak dengan memperhatikan emosi anak, yakni :

  1. Hindari penyerahan tanggung jawab emosi orang tua kepada anak, seperti contoh ungkapan “Kamu membuat kami sebagai orang tua merasa malu”, “Kamu membuat saya merasa kecewa!”
  2. Menghormati perasaan anak dengan cara menghargai atau memberi kesempatan kepada anak mengungkapkan perasaan dan pemikirannya.
  3. Memberikan alternatif pemecahan masalah dengan mengusulkan sesuatu yang dapat dilakukan oleh anak.
  4. Hindari penggunaan label pada anak seperti “pemalas”, “manja”, “egois” “tidak bertanggung jawab” dan sebagainya.
  5. Setelah anak mengungkapkan pemikiran dan perasaannya, kemudian orang tua merespon. Orang tua dapat bertanya kepada anak “Bagaimana perasaanmu saat ini, apakah kamu merasa bebanmu agak berkurang?”

Orang tua juga dapat melakukan refleksi untuk diri orang tua sendiri sebagai berikut :

  1. Apakah saya bertanggung jawab terhadap perasaan yang saya miliki?
  2. Mengapa saya memiliki anak?
  3. Apa sajakah yang saya inginkan dari anak saya?
  4. Apakah saya akan meminta anak saya untuk memberikan jawaban-jawaban atas hal-hal yang saya percayai?
  5. Apakah saya dalam kondisi sehat dan penuh dukungan dalam berhubungan dengan orang lain?
  6. Apakah partner saya dapat memberikan ekspresi perasaan-perasaannya?
  7. Apakah saya merasa bahagia di sebuah hal dalam kehidupan saya?

Tujuan dari refleksi di atas adalah sebagai pertanyaan refleksi untuk menjaga kesadaran orang tua dalam menjaga stabilitas hubungan orang tua dengan anak (Hein, 1996). Pada akhirnya, anak berada di dunia ini bukan pintanya, juga bukan rencananya, namun bisa jadi rencana orang tua sebagai pasangan yang menginginkan dan melakukan berbagai macam usaha untuk memiliki anak, serta kemurahan hati-Nya memberi karunia anak pada sebuah pasangan. Oleh karenanya, perhatikan kebutuhan emosi sebagai orang tua dan kebutuhan emosi anak sebagai seorang manusia.

Oleh : Lusia Gayatri Yosef

sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: