Sejarah OR Indonesia sebelum Merdeka, bag. 3

3. Sistem Olahraga Austria

Bersamaan dengan perkembangan di negeri Belanda, setelah perang dunia ke-1 (1914 – 1918), masuklah sistem Austria. Sistem Austria diciptakan oleh Dr. Karl Gaulhofer dan Dr. Margarete Streicher, didorong oleh keadaan anak-anak akibat perang yang memerlukan perubahan pendidikan. Sistem Austria berpangkal pada anak “Von Kinde Aus” dengan memperhatikan aspek paedagogis dalam menyajikan latihan-latihannya. Latihan disusun secara sistematik dengan kategori berjenjang ; normalisasi, pembentukan prestasi dan seni gerak. Setiap latihan harus mempunyai bentuk dan isi.
Bentuk ditentukan oleh keadaan tubuh dan kemampuan, sedangkan isi memberikan arti dari latihan yang diberikan. Setiap pelajaran disusun menurut urutan tertentu yang dimulai dengan latihan-latihan pendahuluan sebagai pemanasan fisik dan mental untuk menghadapi latihan yang sesungguhnya setelah pendahuluan. Latihan yang sesungguhnya atau latihan inti disusun berurut sesuai dengan sistematikayg diakhiri dengan latihan-latihan penutup sebagai penenang, agar anak-anak dapat kembali ke dalam kelas dengan tertib.

Ada enam prinsip pokok dari sistem Austria yaitu sebagai berikut :

  1. Sistem ini diciptakan dan dipelopori oleh Dr. Karl Gaulhofer dan Dr. Margarete Streicher.
  2. Sistem ini didasari oleh pandangan bahwa dalam pendidikan itu tidak ada dinding pemisahnya, sehingga hanya ada satu pendidikan, yang meliputi manusia sebagai suatu pendidikan. Jadi tidak mungkin ada pendidikan moral, pendidikan intelek dan sebagainya.
  3. Sistem ini tidak berpangkal pada bulan latihan, tetapi sebaiknya berpangkal pada anak yang akan diberikan latihan. Oleh karena itu segi-segi pendidikandan kejiwaan anak memegang peran penting, sehingga pelajaran yang diberikan pada anak itu hanya merupakan alat saja untuk membentuk individu. Latihan fisik itu disatu padukan dengan isi yang berbobot perasaan, intelek, kejiwaan dan sikap lahir yang serasi dengan batin.
  4. Faktor-faktor anatomi, fisiologis, dan kesehatan juga diperhatikan dalam membuat sistem ini, dan dalam membuat jenis-jenis latihannya.
  5. Jenis senam yang dilakukan oleh mereka diberi keterangan “alamiah”, karena semua keserasian tersebut, terdapat pada alam. Oleh karena itu, senamnya diusahakan mendekati alam. Sikap alamiah ini ditentukan oleh tiga komponen, yaitu (a) bentuk, yang dipengaruhi oleh bentuk badan dan keadaan perototan, (b) perbuatan, yang berisi kemampuan berbuat atau berprestasi, (c) isi, yang ditentukan oleh kecerdasan dan keadaan batin.
  6. Susunan jam pelajaran dibagi sebagai berikut : (a) latihan pendahuluan, sebagai pengantar dan pemanasan, (b) latihan inti, yang terdiri atas latihan-latihan togok, keseimbangan, kekuatan, dan ketangkasan, jalan dan lari, serta lempar dan lompat, (c) latihan penenangan, yang merupakan latihan penutup.

Masuknya sistem Austria ke Indonesia tidak lepas dari berubahnya haluan negeri Belanda dalam bidang keolahragaan. Sistem yang timbul setelah perang dunia tahun 1914 – 1918 disebabkan karena dorongan dan keinginan untuk mengadakan pembaharuan pendidikan itu, akhirnya meluas tersebar di Eropa termasuk negeri Belanda. Karena sistem Austria ini sesuai dengan kemajuan jaman, maka sampai berakhirnya penjajahan Belanda di Indonesia, sistem tersebut tetap digunakan di sekolah-sekolah , bahkan guru-guru yang dididik antara tahun 1950 – 1960 masih menerima pelajaran sesuai dengan gagasan Gaulhofer dan Streicher. Selain sekolah senam dan sport militer di Bandung (1922), sebelum perang dunia II di Surabaya juga didirikan suatu lembaga pemerintah untuk mendidik guru-guru olahraga yaitu Gemeentelijk Institut Voor Lichamelijke Opvoeding (GIFLO), dan pada tahun 1941 didirikan pula suatu lembaga untuk mendidik guru-guru pendidikan jasmani Academisch Intitut Voor Lichamelijke Opvoeding (AILO) di Surabaya.

Cabang olahraga yang populer dan digemari oleh masyarakat belum banyak jumlahnya, yang menonjol pada waktu itu adalah sepak bola, bola keranjang, tenis, tinju, dan renang. Pada waktu itu, olahraga digunakan sebagai sarana untuk memelihara semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Misalnya untuk menandingi Netherlands Indische Voetbal Unie (NIVU) didirikan Persatuan sepak Bola Indonesia (PSSI) oleh bangsa Indonesia yang hingga kini terus melaksanakan kegiatannya.

Kekuasaan Belanda berakhir dengan datangnya Jepang pada perang dunia ke-2. Jepang mencoba menarik simpati rakyat untuk bersama-sama mendirikan Asia Timur Raya yang bebas dari penjajahan bangsa barat. Rakyat diajak ikut serta mendukung tentara Jepang dalam perangnya melawan Sekutu. Jepang membuka perang terhadap Amerika Serikat dengan mengadakan pengeboman terhadap Pearl Harbour (Hawai) pada tanggal 8 Desember 1941. Setelah pemboman dilakukan, baru Jepang menyatakan perang secara resmi. Hindia Belanda sebagai sekutu Amerika Serikat mengumumkan pula perang terhadap Jepang, lima jam setelah peristiwa tersebut. Jepang bergerak masuk Asia Tenggara dangan taktik gerak cepat, yang sasarannya adalah Vietnam, Muangthai, Malaya, Philipina, dan Hindia Belanda. Kekuatan Amerika Serikat dengan sekutunya Inggris, Belanda, dan Australia dipusatkan di pulau Jawa.

Perkembangan olahraga saat itu di masyarakat kurang intensif karena kondisi sosial ekonomi yang sangat menekan kehidupan rakyat sehari-hari. Bahkan organisasi induk cabang olahraga yang ada juga pada umumnya hidup tersendat-sendat. Kemudian Jepang berusaha membangkitakan semangat olahraga dengan mendirikan federasi baru dengan nama “Tai Iku Kai” yang diawasi langsung dan kemudian nama ini diganti dengan Gerakan Latihan Olahraga Rakyat (GELORA). Pembinaan wasit maupun pelatih untuk berbagai cabang olahraga ada, tetapi untuk sekolah, guru-guru  olahraga dipersiapkan seperlunya. Alat-alat sangat minim dan pada umumnya fasilitas olahraga tidak bertambah, karena segala daya dan dana diarahkan untuk keperluan pertahanan tentara “Dai Nippon” (Jepang).

Melalui pendidikan olahraga di sekolah, para siswa belajar baris berbaris, perang-perangan dengan senapan bersangkur (tiruan) dan latihan fisik lainnya yang berat dan termasuk gotong royong, menggali lubang -lubang perlindungan, membuat lapangan terbang, dan sebagainya. Demikian pula latihan-latihan disiplin baik di sekolah maupun pada berbagai latihan yang diberikan orang Jepang kepada kelompok-kelompok tertentu membentuk pemuda Indonesia menjadi pemuda yang mempunyai daya tahan tinggi dan siap menghadapi berbagai kesukaran. Hal inilah yang menguntungkan dan sangat membantu manakala bangsa Indonesia menghadapi Belanda yang ingin menjajah kembali.

sumber : Sejarah & Filsafat Olahraga, Prof.Dr. H.J.S Husdarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: