Sejarah OR Indonesia sebelum Merdeka, bag. 2

2. Sistem Olahraga Swedia

Ketika VOC bangkrut pada tahun 1799 M, pemerintah Belanda mengambil alih  semua kekayaan dan kekuasaannya. Selanjutnya antara rahun 1811 – 1816 M, selama peperangan Napoleon pemerintah Belanda jatuh ke tangan Perancis dan kondisi ini menyebabkan Indonesia jatuh pula ke tangan Inggris. Perlawanan demi perlawanan serentak di lakukan antara lain oleh Pangeran Diponegoro (perang Jawa, 1835 – 1830) Cik Dik Tiro dan Teuku Umar (perang Aceh, 1873 – 1903), Imam Bonjol (perang Padri, 1830 – 1837) di Sumatera dan Sisingamangaraja (perang Batak, 1907), namun semua peperangan tersebut berhasil dipadamkan dan para pemimpinnya di penjara atau diasingkan.

Bersamaan dengan itu, masuk ke Indonesia sistem olahraga yang dikembangkan olah Per Hendrik Ling yang mula-mula dibawa oleh para perwira angkatan laut Belanda, Dr. H.P. Minkema. Sistem ini masuk pula ke sekolah-sekolah dan pada tahun 1919 – 1920 mulai diadakan kursus-kursus untuk guru-guru  dan sekolah-sekolah dilengkapi perlengkapan latihan sistem Swedia tersebut.

Perbedaan pokok sistem Swedia dengan sistem Jermna terletak pada titik tolak kerjanya. Jika titik tolak kerja sistem Jerman adalah kemungkinan gerak, maka sistem Swedia didasarkan pada ‘Guna’ gerak. Setiap gerak harus jelas apa gunanya bagi tubuh terutama dilihat dari segi anatomi. Latihan yang tidak jelas gunanya dibuang dan tidak layak dberikan.

Ada empat macam latihan senam menurut sistem Swedia, yaitu sebagai berikut :

  1. Senam militer, dalam bentuk latihan ketangkasan dengan menggunakan alat, sehingga dapat menghadapi lawan. Tujuan latihannya diarahkan untuk membentuk keselarasan antara senjata dan pemakainua. Bentuk-bentuk latihan yang digunakan terdiri dari anggar, senapan bersangkur, dan tombak serta alat-alat lainnya. Latihan ini sebagai dasar di sekolah-sekolah militer di dunia hingga sekarang.
  2. Senam medis, dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan, penyembuhan, dan mengatasi gangguan-gangguan tubuh. Bentuk-bentuk latihannya terdiri atas massage dan latihan-latihan zaman kuno.
  3. Senam paedagogis, adalah latihan senam yang dilakukan sendiri dengan tujuan membentuk keselarasan organ tubuh.
  4. Senam estetis, dengan tujuan untuk melatih sikap dan gerak sebagai perwujudan pikiran, perasaan menuju keselarasan jiwa dan raga.

Kelemahan pokok sistem Swedia adalah kurang memperhatikan aspek-aspek psikologis, karena itu kurang diminati oleh anak-anak. Namun, begitu hal yang sesuai dengan semboyan pengembang sistem Swedia yang mengatakan bahwa “kami tidak memberikan apa yang disukai anak-anak, yang kami berikan adalah yang berguna bagi mereka”.

Sebagai pengembang sistem Swedia, pada bulan Januari dan Februari 1916, Minkema melakukan lawatan ke Stockhlom untuk mempelajari sistem senam di sana. Sejak bulan Maret 1916 ia bekerja pada sekolah senam dan olahraga “Koninklejke Marine” di Willem-soord negeri Belanda. Ia termasuk salah seorang yang dengan yakin menyetujui senam Swedia dan pengetahuannya tentang sistem ini secara mendalam. Sedangkan sistem Swedia masuk ke Indonesia pada tahun 1918 dibawa oleh Dr.H.P. Minkema.

Di Indonesia senam Swedia ini mulai dugunakan di sekolah senam dan sport militer yang dibuka di Bandung pada bulan Desember 1922. Pada awalnya sekolah di Bandung masih menggunakan lapangan olahraga dan gedung-gedung “Netherlands Indische Bond Voor Lichamelijke Opvoeding”. Sebagai direktur ditunjuk Kapten P. Eenhoorn dan dua orang instruktur yakni, Letnan G. Giebel dan Letnan Reinierse, keduanya merupakan lulusan Utrecht.

Pada tahun 1916, M.J. Juten Leeraar M.O pendidikan jasmani diangkat  sebagai pegawai untuk pendidikan jasmani sekolah. Ia mulai berkenalan dengan sistem Swedia pada tahun 1918 pada kursus-kursus yang diadakan oleh Dr. Minkema di Malang, dan bersama Dr. Nieuwenhuis berhasil mempertahankan sistem ini pada dewan pengajaran, sehingga dewan ini memberikan nasihat kepada Dr. Creutzberg (direktur Departemen Pengajaran dan Ibadat, saat itu) untuk mengganti sistem Jerman yang dipakai saat itu dengan sistem Swedia. Dengan demikian senam Swedia secara resmi ditetapkan untuk diberikan di berbagai sekolah di Indonesia. Pada tahun 1919 – 1920 kepada guru-guru yang mengajarkan senam di Kweelschool dan sekolah normal, diberikan kursus-kursus waktu liburan mengenai sistem baru itu, sedang ruang-ruang senam pada sekolah-sekolah itu di lengkapi dengan peralatan senam Swedia.

Untuk lebih memperjelas tentang sistem Swedia ini, beriku dideskripsikan pokok-pokok penting sistem Swedia, yaitu sebagai berikut :

  1. Sistem Swedia diciptakan dan dipelopori oleh Per Hendrik Ling
  2. Dasar dari sistem Swedia ini adalah susunan tulang-tulang dan otot, serta kerjanya alat-alat tubuh (anatomi dan fisiologi). Jadi dasarnya adalah manfaat dari gerakan-gerakan itu bagi tubuh.
  3. P.H. Ling menyusun sistemnya karena melihat bahwa rakyat Swedia pada waktu itu menderita kerusakan badan, dan dimaksudkan untuk memperbaiki kesehatan dan sikap badan rakyat Swedia.
  4. Sistem Swedia masih belum memperhatikan aspek paedagogis dan psikologis. Hal ini didasari oleh paham Ling yang menyatakan bahwa sistem Swedia tidak memberikan apa yang diinginkan oleh anak-anak, tetapi apa yang berfaedah dan bermanfaat bagi anak.
  5. Sistem Swedia membedakan empat macam senam, yaitu :
    • Senam militer yang menekankan pada kekuatan, kelincahan bergerak dan kemampuan untuk menahan ketegangan
    • Senam medis yang berhubungan dengan kemungkinan bagi mereka yang lemah, melalui latihan-latihan
    • Senam paedagogis yang ditujukan untuk mengembangkan potensi-potensi bawaan dari tubuh.
    • Senam estetis yang melaksanakan sikap dan gerak sebagai pernyataan atau ungkapan perasaan, emosi, dan pikiran.
  6. Pada sistem Swedia terdapat alat-alat yang spesifik antara lain bangku Swedia, jenjang, peti lompat, balok keseimbangan, tambang/tali untuk latihan bergantungan, kuda-kuda, gelang-gelang, dan pelana
  7. Susunan pelajaran menurut sistem ini terdiri atas :(a) latihan pendahuluan, (b) latihan inti, dan (c) latihan penutup.
  8. Sifat-sifat dan tanda-tanda yang terdapat pada sistem Swedia antara lain :
    • Semua latihan dipertanggungjawabkan secara anatomis dan fisiologis
    • Pada waktu melakukan latihan diutamakan sikap yang baik dan juga cara melakukannya
    • Setiap pembelajaran mempunyai pembagian latihan yang tetap dan tertentu
    • Alat-alat yang digunakan, dimaksudkan untuk memberikan faedah dari gerakan
    • Latihannya tidak memberikan kegembiraan karena untuk hidup.

Seperti halnya sistem Jerman, kelemahan pokok sistem Swedia adalah kurang memperhatikan aspek-aspek psikologis atau aspek kejiwaan, karena itu kurang diminati oleh anak-anak. Karena kelemahannya inilah sistem Swedia pun terdesak oleh sistem Austria.

bersambung ke bag. 3…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: