Guru sebagai Pelatih di sekolah

Dalam bahasa Inggris istilah pelatih olahraga di sebut coach, sedangkan pekerjaan melatihnya di sebut coaching. Pelatih adalah seseorang yang memberikan latihan keterampilan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Pelatih olahraga adalah seseorang yang memberikan latihan keterampilan berolahraga tertentu untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, pelatih minimal harus dapat membuat perencanaan, pengelolaan dan evaluasi latihan. Sekilas mengenai latihan (Bompa:1988) membagi program menjadi 3 periodisasi : periode latihan, periode pertandingan/kompetisi dan periode transisi.

Kehidupan pelatih sama dengan masyarakat pada umumnya yang mempunyai falsafah hidup masing–masing. Falsafah menurut Martin and Lumsden (1987) adalah suatu sistem dari prinsip–prinsip yang dipakai untuk membimbing orang dalam kegiatan–kegiatannya, …….a system of principles for guidance in practical affairs.

Kalau kita bicara mengenai falsafah coaching, kita bicara mengenai suatu perangkat sikap, atau prinsip – prinsip dasar menuntun tabiat dan perilaku pelatih di dalam situasi praktek. Ada pelatih yang falsafah coachingnya adalah ”memenangkan setiap pertandingan”, maka sikap dan perilakunya serta cara menangani olahraga dan peserta didiknya tercermin dalam falsafah tersebut. Berbeda dengan pelatih yang falsafahnya adalah ”menanamkan kepribadian dan perilaku  yang baik” pada peserta didiknya. Penanganannya juga akan berbeda dengan pelatih yang falsafahnya lain. Kombinasi falsafah  coaching untuk mencapai tujuan melatih mutlak diperlukan agar prestasi dan sikap sportif dapat tergapai secara sinergi.

Dengan mengobservasi perilaku para peserta didik, kita biasanya akan dapat mengetahui falsafah pelatihnya. Gaya permainan para peserta didik, rasa hormat yang diperlihatkan kepada ofisial dan lawan–lawannya, bahasa yang digunakan, perilaku di luar lapangan, kesanggupan untuk mengatasi stres pertandingan, semangat bertanding, kesetiaan terhadap teman dan timnya, stamina serta kostum pertandingan , itu semua dapat merupakan sebagian dari indikator–indikator yang mencerminkan falsafah pelatihnya. Perilaku para peserta didik juga dapat mencerminkan apakah pelatihnya menganggap disiplin dan perilaku moral yang baik penting bagi timnya, like father like son and like coach like athlete.

TUGAS, PERAN DAN KEPRIBADIAN PELATIH

Gelar coach atau pelatih adalah gelar atau sebutan yang memancarkan rasa hormat, respek, status dan tanggung jawab. Gelar coach seringkali bisa berlanjut meskipun tugas sebagai coach sudah usai. Sekali kita coach, selamanya  kita adalah coach bagi peserta didik kita, bagi rekan dan bagi masyarakat.

Peserta didik menganggap bahwa seorang pelatih adalah ahli dalam segala hal dan pandai memainkan peran sesuai dengan kecabangan olahraganya. Dan banyak peserta didik yang ingin seperti pelatihnya kalau kelak ia menjadi pelatih, terutama bagi pelatih yang sukses prestasi dan berkepribadian, tetapi ada juga peserta didik yang bersumpah tidak akan berbuat seperti pelatihnya dulu, biasanya pelatih yang gagal dan berkepribadian buruk. Akan tetapi apa yang diperoleh dari pelatihnya akan senantiasa membekas pada peserta didik.
Pelatih mempunyai peran sebagai guru, bapak dan teman. Sebagai guru ia disegani, sebagai bapak ia dicintai dan sebagai teman ia yang dipercaya menjadi tempat mencurahkan hati (curhat)

Di bawah ini akan diuraikan beberapa tugas utama dan kepribadian yang perlu diperhatikan oleh seorang pelatih.

1.    Perilaku

Pertama–tama perilaku pelatih haruslah bebas dari cela dan cerca. Dia harus ingat bahwa baik anak didiknya maupun masyarakat memandang dirinya sebagai seorang manusia model (role model). Hampir setiap gerak pelatih akan diamati oleh peserta didik maupun oleh masyarakat. Pelatih harus hidup dengan falsafah sebagaimana yang dia minta dari peserta didik; dia harus mendemonstrasikan nilai–nilai yang diajarkannya. Pelatihan olahraga dalam kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan oleh seorang pelatih di sekolah juga harus dapat mentransformasi nilai–nilai perilaku yang baik kepada peserta didiknya, sehingga peserta didik akan bersifat sportif, hormat dan menghargai lawannya.

2.   Kepemimpinan

Pelatih harus dapat bersikap tegas, tidak meragukan, apalagi mencurigakan. Seorang coach yang baik akan selalu memperlihatkan wibawanya sebagai seorang pemimpin dan sifatnya sebagai orang yang sportif, meskipun timnya dalam kondisi kritis, meskipun peserta didiknya banyak melakukan kesalahan, meskipun keputusan wasit dirasakan berat sebelah. Keteguhan sebagai seorang pemimpin harus tetap dipegang , baik setelah kemenangan maupun kekalahan. Pelatih harus dapat mengambil peran yang tepat pada saat latihan maupun pertandingan dalam kondisi sesulit apapun, sebab peserta didik (di sekolah) akan turut komando pelatihnya. Apalagi dalam pertandingan olahraga antar sekolah yang rawan tawuran, kepemimpinan pelatih sangat penting dalam mencegah hal–hal buruk yang akan terjadi.

3.   Pengetahuan dan keterampilan

Tinggi rendahnya prestasi peserta didik banyak tergantung dari tinggi rendahnya pengetahuan dan keterampilan pelatihnya. Ungkapan ini sangat tepat sebab pengetahuan pelatih tentang bentuk–bentuk formasi permainan, strategi pertahanan dan penyerangan haruslah sedemikian rupa sehingga hampir tidak mungkin regu lawan akan dapat mengacaukan regunya dengan suatu penyerangan atau pertahanan yang tidak dikenalnya. Dalam pertandingan–pertandingan antar sekolah, kelebihan pengetahuan dan keterampilan pelatih akan sangat membantu kesuksesan tim olahraga sekolah tersebut.

4.     Keseimbangan Emosional

Kesanggupan untuk bersikap wajar, lugas, dan layak dalam keadaan tertekan atau terpaksa merupakan suatu ukuran keseimbangan emosional dan maturitas seseorang. Dalam tugas kita sebagai pelatih yang berfungsi sebagai pembimbing dan pengasuh peserta didik (Siswa di sekolah) yang merupakan anak–anak muda yang dalam keseimbangan emosional yang belum matang, penting bagi kita untuk tetap berkepala dingin, bukan hanya pada waktu latihan dan pertandingan, akan tetapi di luar itu. Sudah wajar kalau ada situasi–situasi yang dapat menimbulkan marah dan frustasi pada kita. Dan wajar pula kalau reaksi kita adalah marah dan frustasi, karena hal itu adalah emosi manusiawi. Akan tetapi yang perlu kita perlihatkan adalah bahwa dalam situasi demikian itu, kita tetap dapat mengendalikan emosi kita, terutama sekali emosi peserta didik kita menghadapi situasi yang demikian dan bukan melampiaskannya dengan maksud untuk kepuasan kita atau balas dendam.

 

5.    Humoris.

Kemampuan untuk membuat orang lain merasa rileks dengan jalan memberikan humor atau lelucon yang sehat dan menyegarkan merupakan faktor penting guna mengurangi ketegangan dan membangkitkan optimisme baru, baik dalam latihan maupun sebelum dan sesudah pertandingan. Perlu diingat bahwa kita melatih peserta didik yang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun psikis, dengan memberikan kegembiraan dalam latihan dengan humor yang sehat akan membawa hasil yang positif bagi perkembangannya. Kalau perlu kita sebagai pelatih belajar bahasa gaul agar interaksi kita dengan mereka menjadi lebih hangat lagi.

Sebenarnya masih banyak lagi kepribadian pelatih yang lainnya, yang dapat kita ungkap dalam edisi majalah kita yang akan datang. Akhirnya mari kita menjadi pelatih yang the best of the best.

Penutup

Terbentang luas pengabdian dan tugas kita di sekolah, di samping kita menjadi guru, pembimbing dapat pula kita berperan sebagai pelatih pada saat kegiatan ekstrakurikuler. Dengan menjadi pelatih olahraga banyak pengalaman dan pembelajaran yang kita dapatkan dan amalkan sesuai dengan bidang kepelatihan kita. Pengalaman yang terpenting adalah interaksi yang terus–menerus dan pengamatan perkembangan dari hasil latihan peserta didik kita, sedangkan pembelajaran yang terpenting adalah kita mempersiapkan peserta didik untuk mengasah minat, bakat dan keterampilan mereka menuju hantaran menjadi peserta didik profesional yang dapat mengharumkan bangsa dan negara. Mampukah kita?

Sumber :

  1. Drs. Harsono, M. Sc. Coaching dan Aspek-Aspek Psikologis dalam Coaching, tahun 1988
  2. Tudor O. Bompa, PhD, Periodization: Theory and Methodology  of Training, 4th edition, tahun 1994

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: