Sejarah Tenis Meja

tenis meja

tenis meja

Sebuah museum di Lausanne, Swis, menjadi sumber utama yang menyimpan data dan fakta seputar sejarah permainan Tenis Meja. International Table Tennis Federation’s (ITTF) Museum, demikian nama resmi museum tersebut. Kuratornya bernama Chuck Hoey, seorang kelahiran Amerika Serikat yang dikenal sebagai orang yang paling punya otoritas di dunia untuk bicara mengenai sejarah Tenis Meja.

Tenis Meja boleh dibilang merupakan anak kandung tenis lapangan. Di era 1870-n dan 1880-an, tenis lapangan tengah mencapai popularitasnya di benua Eropa dan Amerika. Terinspirasi oleh suksesnya permainan ini, orang-orang mulai tertarik membuat inovasi dengan memainkannya di dalam ruangan. Konon masyarakat kalangan kelas menengah Inggris di era Victoria menjadikan meja makan sebagai sarana untuk bermain-main layaknya orang bermain Tenis Meja dengan peralatan seadanya. Konon pula, para tentara Inggris di Afrika Selatan dan India juga telah mulai bermain Tenis Meja pada tahun 1880-an. Namun karena keterbatasan sarana, alat yang mereka gunakan masih sangat sederhana: tutup kotak rokok sebagai pemukul, gabus bulat penutup botol anggur sebagai bola, dan buku sebagai net. Istilah Tenis Meja sendiri pertama kali digunakan oleh JH Singer di New York, Amerika Serikat, sekitar tahun 1984. Namun istilah itu tidak merujuk kepada bentuk permainan seperti yang kita kenal sekarang. Singer menggunakan papan dan dadu dalam permainan yang dia sebut Tenis Meja itu.

Adalah seorang pria Inggris bernama David Foster yang pertamakali berinisiatif memainkan tenis di atas meja pada tahun 1890. Namun perangkat yang diperkenalkan Foster pun belum menggunakan bet dan bola seperti yang kita kenal sekarang. Yang digunakan adalah pemukul berupa raket, bola karet berukuran 30 mm yang dilapisi kain, kayu sebagai pemagar meja, dan jaring di sepanjang pinggiran meja yang difungsikan untuk menahan bola yang keluar. Permainan ini lebih merupakan perpaduan antara tenis lapangan, sepak bola, dan kriket. Pada tanggal 15 Juli tahun yang sama, Foster mematenkan inovasinya yang diberi nama Permainan Meja Kamar (Parlour Table Games) itu di Inggris. Karena sumbangsihnya itu, Foster dianggap sebagai penemu Tenis Meja.

Namun rupanya tak hanya Foster yang memiliki inisiatif serupa. Masih di Inggris, seseorang melakukan inovasi serupa tapi tak sama dengan Foster. Namanya Emma Barker. Dia memperkenalkan permainan tenis dengan menggunakan meja yang dibentuk seperti lapangan tenis, raket yang diikat di tangan sebagai pemukul, dengan aturan menyerupai tenis lapangan. Barker mematenkan inovasinya itu di Amerika pada tanggal 21 Januari 1891. Permainan itu dinamai Inddor Tennis.

Menyusul tak lama setelah itu, sebuah perusahaan olah raga di Inggris bernama Jaques & Son of Hatton Garden mematenkan permainan serupa pada 16 Juli 1891 yang diberi nama Gossima. Perusahaan ini pula yang memproduksi pertama kali perangkat permainan tersebut dan mempopulerkannya. Gossima ini dimainkan dengan bola gabus berselaput berukuran 50 mm dan net setinggi 30 cm. Namun sejauh itu permainan hasil inovasi dari tenis lapangan ini belum mencapai popularitas seperti ‘ibu’-nya dan tampak madesu alias masa depan suram. Penyebabnya ada pada bola. Baik bola karet maupun bola gabus tidak kompatibel untuk permainan ini. Bola karet terlalu mantul, sedangkan bola gabus terlalu loyo.

Baru setelah memasuki abad 20, permainan ini boleh dibilang mulai punya masa depan setelah ditemukan bola yang terbuat dari seluloida. Bola berbahan seluloida ini pas dimainkan, tidak terlalu mantul tapi juga tidak terlalu loyo. Berbarengan dengan itu muncullah nama “Ping Pong.” Adalah perusahaan bernama Hamley Brothers yang memunculkan nama Ping Pong sembari memperkenalkan bola berbahan seluloida serta mematenkan nama “Ping Pong” itu pada tanggal 20 September 1900. Kata Ping Pong berasal dari bunyi pantulan bola seluloida saat dimainkan di atas meja dan membentur bet. Karena Hamley Brothers bekerja sama dengan John Jaques & Son of Hatton Garden, pada mulanya permainan itu disebut “Gossima atau Ping Pong,” lalu berubah menjadi “Ping Pong atau Gossima,” dan terakhir menjadi “Ping Pong” saja. Namun masih ada sebutan lain untuk permainan ini, Whif-Waff. Nama itu diperkenalkan oleh perusahaan Slazenger & Sons, London, Inggris dan dipatenkan sebagai ‘permainan baru’ pada 31 Desember 1900.

Ping Pong vs Tenis Meja

Mengapa akhirnya muncul 2 nama, Ping Pong dan Tenis Meja? Sebenarnya tidak ada beda substansial antar keduanya. Hanya saja, urusan bisnis telah membuat permainan ini memiliki 2 nama. Begini ceritanya.

Seperti telah dikemukakan di atas, Ping Pong merupakan nama yang dimunculkan dan kemudian dipatenkan oleh Hamley Brothers bekerja sama dengan John Jaques & Son of Hatton Garden pada tahun 1900. Setelah ‘anak kandung tenis lapangan’ itu mulai popular di awal abad 20, setahun muncul 2 organisasi yang mewadahi permainan ini di Inggris, yakni The Table Tennis Association yang dibentuk 12 Desember 1901 dan The Ping Pong Association yang dirikan 4 hari kemudian. Karena nama Ping Pong telah dipatenkan, The Ping Pong Association diharuskan menggunakan perangkat yang diproduksi oleh John Jaques & Son untuk kompetisi-kompetisi Ping Pong. Perusahaan itu juga mengancam menuntut siapapun yang memainkan Ping Pong tanpa menggunakan perangkat hasil produksi mereka.

Di Amerika Serikat, perusahaan olah raga bernama Parker Brothers bersedia membeli paten dari John Jaques & Son dan menyebarkan Ping Pong di AS. Namun di Inggris, The Ping Pong Association menolak mengikuti kemauan John Jaques & Son. Akhirnya mereka memutuskan mengubah namanya menjadi The Table Tennis Association, sama seperti saudaranya, untuk menghindari kemungkinan penuntutan. Akhirnya duo kembar ini bergabung menjadi satu pada tanggal 1 Mei 1903. Nama yang mereka gunakan adalah The Tabble Tennis Association. Pada tahun 1926, seiring dengan kebangkitan Tenis Meja di Eropa mulai 1920-an, didirikanlah International Table Tennis Federation (ITTF) yang menjadi wadah resmi permainan ini di tingkat dunia. Sejak itulah permainan ini lebih dikenal dengan nama Tenis Meja.

Namun demikian, dalam perkembangannya nama Ping Pong masih tetap sering digunakan, terutama oleh asosiasi-asosiasi di tingkat nasional yang berafiliasi dengan ITTF, khususnya di Amerika Serikat. Selain di Amerika dan Inggris, Ping Pong saat itu juga mulai populer di Austria, Ceko-Slovakia, Jerman, Hungaria, India, Swedia, dan Wales. Negara-negara tersebut juga dikenal sebagai anggota awal ITTF. Faktor psikologis barangkali berperan di sini. Pada masa awal kemunculannya, Ping Pong telah secara gencar diiklankan oleh perusahaan pemroduksinya. Nama Ping Pong sudah begitu meresap di benak masyarakat sehingga meski secara formal terma “Tenis Meja” digunakan, tetapi kata “Ping Pong” tetap umum dipakai.

Perkembangan dan Penyebaran

Setelah berumur cukup dewasa, permainan ini semakin menyebar dan turut menjadi populer hingga wilayah Asia, terutama Jepang, China, dan Korea. Konon tentara Inggris lah yang menyebarkan permainan tersebut. Dua puluh lima tahun pertama sejak World Championship diselenggarakan pertama kalinya pada tahun 1926 di London, Inggris, permainan ini masih didominasi oleh jawara-jawara dari Eropa, terutama Inggris dan Hungaria. Namun mulai tahun 1952, dominasi Eropa digeser oleh Asia. Adalah Jepang yang merupakan jawara Tenis Meja pertama dari Asia. Pemain Jepang Hiroji Satoh menjadi terkenal setelah berhasil menjadi jawara tenis dunia untuk kategori tunggal putra dengan mengalahkan Jozsef Koczian dari Hungaria. Yang membuat Satoh lebih terkenal lagi adalah kemunculannya dengan model bet baru. Jika sebelumnya para pemain menggunakan raket karet berbintik-bintik, Satoh menggunakan bet dari kayu dilapisi spon karet. Bet a la Satoh ini mempunyai kemampuan lebih dalam hal kecepatan dan spin.

Setahun kemudian, China menyusul Jepang dan masuk ke dalam kompetisi tersebut, namun baru pada tahun 1959 China berhasil menjadi juara untuk kategori single putra dengan mengalahkan Hungaria dalam kompetisi di Dortmund, Jerman Barat. Sejak itu, China dan Jepang mulai mendominasi dunia Tenis Meja dan secara konsisten menjadi jawara untuk kategori single putra. Namun pada tahun 1990-an Eropa kembali bangkit dengan memenangkan beberapa pertandingan. Untuk perkembangan terkini, jawara-jawara Tenis Meja didominasi oleh pemain-pemain Asia, terutama China. Misalnya, pada bulan Mei 2010, dari 7 pemain terbaik dunia untuk kategori tunggal putra, 6 di antaranya dari China (dan 1 dari Jerman). Untuk pemain putri tunggal angkanya lebih fantastis lagi. Tujuh belas pemain terbaik dunia berasal dari Asia, terdiri dari China, Hongkong, Jepang, Korsel, dan Singapura. Baru pada urutan 18 terdapat pemain non-Asia, yakni Liu Jia dari Australia (menilik namanya, sepertinya pemain Australia ini pun memiliki hubungan darah dengan orang China).

Sebagai catatan, kompetisi tahunan ini sempat absen diselenggarakan selama 7 tahun mulai 1940 hingga 1946 karena terganggu 2 Perang Dunia. Baru tahun 1947 kompetisi kembali diadakan. Namun mulai tahun 1957, jadwalnya diubah dari tahunan menjadi 2 tahunan. Pada tahun 1959-1960, ITTF membuat standardisasi untuk ukuran ketebalan bet. Sejak tahun 2000 di Kuala Lumpur, Malaysia, World Table Tennis Championship dipecah menjadi 2, yaki kategori tim dan kateogri individu (single dan double).

dihimpun dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: